Menambah Wawasan Keislaman dengan Memanfaatkan Teknologi

Di zaman modern yang serba cepat, mudah, praktis dan canggih ini, atau.. oleh sebagian Generasi Millenial biasa disebut Zaman Now. Kita khususnya generasi muda islam, dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (khususnya teknologi informasi dan komunikasi), sebagai konsekuensi menghadapi tantangan zaman. Hal itu untuk mengimbangi cepatnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi, karena dunia berubah sangat cepat sehingga ada banyak tantangan baru.

Namun, perlu digarisbawahi, teknologi apapun memiliki dua sisi mata pisau yang saling berlawanan, yaitu positif dan negatif. Begitu pula dengan internet yang tidak hanya memberi banyak manfaat tapi juga memiliki dampak negatif. Untuk itu kita harus berhati-hati, agar bisa memilah dan memilih, mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang manfaat/maslahat dan mana yang madorot. Oleh karena itu, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) harus diimbangi pula dengan Pemahaman Agama yang cukup baik, sebagai dasar Iman dan Takwa (IMTAK); sebagai Pondasi dan Penyeimbang agar terjadi keseimbangan antara IPTEK dan IMTAK. Agar kemajuan IPTEK ini tidak kebablasan, merusak dan menghancurkan tapi justru bermanfaat dan maslahat untuk kemajuan bangsa, negara dan agama. Maslahat dan manfaat untuk umat. Maslahat dan manfaat dunia dan akhirat.

Menghadapi perkembangan zaman, kita dituntut untuk selalu mengembangkan diri, salah satunya bisa diikuti dengan banyak membaca. Dan sumber bacaan di zaman modern ini, kita bisa mendapatkannya dengan mudah dan murah bahkan gratis. Selain bisa melalui buku bacaan biasa, juga bisa melalui internet/website/blog, media sosial, buku digital/elektronik dan lain sebagainya, yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja, melalui media komputer/pc desktop/laptop atau smartphone/tablet.

Sekedar untuk menambah wawasan kita tentang hukum-hukum islam dan/atau sekedar untuk menambah referensi bacaan dengan memanfaatkan teknologi. Berikut ini adalah beberapa situs/website tentang hukum-hukum islam:



3. Yusuf Qardhawi - Fiqih Kontemporer
Ketua Persatuan Ulama Dunia (Persatuan Ulama Muslim Internasional - الإتحاد العالمي لعلماء المسلمين)

Dan masih banyak lagi sumber-sumber ilmu lainnya. Karena ilmu Allah itu begitu besar dan luas, bahkan sangat besar dan luas sekali, tak terhingga dan tak bertepi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Luqman ayat 27:

"Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah".

Dengan banyak membaca dari berbagai sumber, akan menambah ilmu dan wawasan yang (insya allah) akan menghindarkan diri dari sikap fanatisme golongan berlebihan, taqlid buta, berfikiran sempit dan fanatik, saling menyalahkan dalam pendapat yang berbeda, dan lain sebagainya.

Namun, jadikanlah situs/website diatas sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan khususnya hukum-hukum islam, selain bertanya/belajar langsung kepada para ulama dan/atau cendekiawan muslim yang berkompeten dalam bidangnya masing-masing.

Tapi, berhati-hatilah bagi yang belajar agama dan/atau mencari informasi keagamaan via internet tanpa dilandasi ilmu agama yang cukup dan/atau tanpa bimbingan guru/ustad/kyai/cendekiawan muslim yang kompeten dalam bidangnya. Harus lebih selektif dan penuh kehati-hatian, sebab internet itu bagaikan hutan belantara, apabila salah arah dan salah langkah bisa sesat dan menyesatkan. Apalagi sekarang banyak aliran-aliran agama yang aneh-aneh yang ajarannya disebarkan salah-satunya melalui internet, sehingga ajaran-ajaran mereka bisa menyebar luas dengan begitu cepat serta bisa diakses kapan saja dan dimana saja dengan mudah dan murah.

Dan yang tidak kalah penting adalah, berbeda pendapat itu, wajar.. boleh-boleh saja, sah-sah saja karena itu sudah menjadi hukum alam, sunatullah, yang penting bisa saling menghargai dan saling menghormati selama masih dalam jalan kebenaran. Yang tidak wajar itu adalah merasa diri/kelompok/golongannya paling benar dan menganggap yang lain salah, serta tidak bisa menempatkan dan menyesuaikan diri. Akhirnya.. tenaga, fikiran, waktu dan biaya hanya terbuang percuma dengan perdebatan yang tidak akan pernah ada akhirnya - tidak akan pernah ada ujungnya. Kalau terus-terusan seperti itu, kapan islam akan maju apabila umatnya tidak bersatu. Umat lain sudah maju pesat meninggalkan kita bahkan mereka sudah sampai ke bulan, sedangkan umat islam masih saja sibuk dengan perdebatan.. hhhmmmm.... 

Realita pahit yang bisa kita saksikan saat ini, suku/kelompok/golongan/madzhab/organisasi keislaman/partai yang mengatasnamakan islam atau sejenisnya, telah dijadikan standar loyalitas. Kita tidak tahu, sampai kapan mereka akan akur. Kita juga tidak tahu, sampai kapan mereka akan menghentikan perang dingin dengan sesama mereka (sesama muslim).

Masing-masing punya gengsi tersendiri. Dan masing-masing sangat membanggakan kelompok/golongannya. Bisa jadi, ini muncul karena ditunggangi doktrin ideologi dari kelompok/golongannya masing-masing.

Namun apapun itu, islam melarang membangun loyalitas karena latar belakang suku/kelompok/golongan apalagi hanya sebatas organisasi atau partai misalnya. 

Karena itulah, orang yang mati karena latar belakang kesukuan atau loyalitas kelompok, digolongkan sebagaimana mati gaya jahiliyah.

Sabda Rasulullah SAW:

مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

"Barang siapa yang terbunuh karena latar belakang yang tidak jelas, menghidupkan semangat kesukuan atau membela kelompok, maka dia mati dalam kondisi jahiliyah". (HR. Muslim).

Loyalitas yang diajarkan islam adalah loyalitas yang dibangun atas dasar iman dan islam. 

Firman Allah SWT.:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu" (QS. al-Hujurat: 10).

Tak ada seorangpun yang dapat mengerti sepenuhnya apa itu kebenaran, maka bagaimana kita mampu menyalahkan orang lain secara mutlak, seakan tak ada sedikitpun tersisa kebenaran pada orang itu (Mulyadhi Kartanegara).

Kebenaran menurut manusia itu bersifat relatif, tidak ada kebenaran mutlak. Karena kebenaran mutlak itu hanya milik Allah Swt.

Wallahu'alam..

2 Responses to "Menambah Wawasan Keislaman dengan Memanfaatkan Teknologi"

  1. My family members always say that I am killing my time here at web, but I
    know I am getting familiarity every day by reading such nice
    articles.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you ... but ... sorry ... I don't understand the meaning of your comment.. :)

      Delete